Perjalanan Yang Singkat

27 05 2009

Dalam sebuah perjalanan, diatas bus aku duduk dideretan sebelah kanan, tepatnya dibelakang supir. Malam itu bus melaju kencang, speedometer merapat ke angka 100km/jam, malam yg gelap,tanpa ada sinar bulan, juga samping kiri dan kanan tidak berlampu jalan.

Sebelah kiri jalan ada sungai yg panjang, sebelah kanan jalan ada area persawahan yang luas. Dibagian jalan beraspal hotmix itu ada banyak rel lori melintasinya, malam itupun ada beberapa lori yang lewat, dengan tanda lampu kecil, agar supaya kendaraan berhenti dan tidak sampai menabrak lori pengangkut tebu yang lewat.

Disaat pikiran mencoba menata mencari makna sesuatu, sebuah sedan mewah menyalip dengan laju yang sangat kencang, dengan lampu halogennya yang amat terang. Dalam waktu yang tidak lama sudah lenyap dalam pandanganku yg duduk dibangku terdepan, hanya tampak sorot lampunya yg kelihatan makin kecil.

Dalam bis itu aku berpikir ulang, andaikan sedan mewah yang melaju sekencang dan secepat itu, tiba-tiba semua instrumen kelistrikannya putus, sehingga semua lampunya padam, padahal jalan didepan berbelok dengan pagar pembatas dari besi ddan beton, pastilah akan menabrak dan hancur berantakan karena tidak tahu lagi arah yang benar.

Bis yang aku naiki tetap jalan dengan kecepatan yang hampir konstan, membawaku dalam perjalanan dari Jember menuju Probolinggo. Aku melayangkan segala pikiranku kemana-mana, menyatukan berbagai hal, menghubungkan berbagai hal tersebut, berusaha membuat arah tautan yang dapat kujadikan pelajaran.

Aku mencoba merasakan suatu tautan-tautan itu, andaikan manusia dalam kehidupan yang amat gelap ini berjalan tanpa sebuah cahaya penuntun, apalah artinya. Tentunya akan berjalan dengan tanpa tahu arah yang benar, mana jalan salah dan mana jalan yang benar, dan akhirnya akan membawa celaka.

Demikian pula meskipun mereka sudah diberi pelita penerang, namun pelita itu tidak digunakan sebagaimana mestinya, malahan pelita itu dilempar kebelakang punggungnya, akankah bisa menyelesaikan seluruh perjalanan dengan selamat sampai tujuan.

Rasa kantuk mulai menyelimuti mataku, karena seharian itu aku belum juga istirahat, sehingga bis yang melaju kencang itu seperti menina-bobokkan aku. Tak terasa akupun tertidur dan baru terbangun ketika sudah hampir memasuki terminal Probolinggo.

Namun perjalanan masih panjang, aku biarkan diriku kembali dalam buaian bis yang melaju kencang itu. Kiranya kita kembali disadarkan oleh ALLAH SWT dengan Firman-NYA;

“QS Asy Syuura [42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruuhan (wahyu, Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [42:53] (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”





Ketidaksempurnaan BUKAN sebuah halangan

11 05 2009

Ketidaksempurnaan BUKAN sebuah halangan,,,

Dengan kemauan yang keras dan semangat yang tinggi serta keyakinan bahwa ALLAH SWT tidak akan memberikan beban yang melebihi dari kemampuan, serta keyakinan bahwa ALLAH SWT pasti akan menolong setiap usaha hamba-NYA, maka kesuksessan akan dapat diraih.






Makna Sebuah Perjalanan

3 05 2009

Ketika kita, makhluq yang bernama manusia mau sedikit menggunakan potensi berpikir kita dengan benar maka kita akan lebih dulu bertanya kepada dirinya sendiri. Disaat usia kita memasuki dewasa dan kita berpikir tentang diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan, dimana diri kita seratus tahun sebelumnya, dan bisa disebut apa diri kita saat itu.

Disaat kita lahir, tak ada sesuatupun yang kita ketahui dan kita ingat, ketika orang banyak mengerubuti kita, mereka tertawa riang, bangga dengan kelahiran diri kita, dan disaat itu kita justru menangis dan dibuat menangis, karena tanpa menangis organ tubuh kita tidak akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Dengan menangis itulah organ dalam tubuh kita mulai bekerja dengan proporsional.

Hari demi hari kita lalui, sampai usia kita menjadi dewasa, sedangkan masih banyak hal yang belum bisa kita temukan jawabannya. Bahkan kitapun justru menderita sebuah penyakit dunia modern, penyakit yang memang banyak dialami dan diderita kebanyakan orang, penyakit yang mematikan potensi besar manusia, yakni penyakit “malas berpikir”.

Sementara itu waktu terus berputar tanpa komentar apapun tentang diri kita, dia berjalan tanpa memperhatikan apapun perbuatan yang kita lakukan, dia hanya menjadi saksi bisu atas segala yang terjadi padanya, diam ataukah bergerak, salah ataukah benar, dia hanya menyaksikan saja.

Disuatu saat nanti, tentang seratus tahun kedepan, kitapun seharusnya akan bertanya pula tentang saat itu. Dimana kita nanti akan berada, disebut apakah diri kita saat itu, apa aktifitas yang kita lakukan saat itu, dalah sebuah pertanyaan yang seharusnya menggelitik akal pikiran dan hati kita.

Saat ini kita disini, disebuah tempat kecil, bahkan tempat kita berpijak saat ini tidak akan dapat terlihat jika berada di ketinggian sepuluh ribu meter diatas tempat kita berpijak saat ini, apalagi kitapun berada diantara rerimbunan pohon-pohon dan gedung-gedung yang besar.

Diantara kelahiran dan kematian itulah kita disebut berada dan tinggal pada arena kehidupan, yang itupun masih harus dipisah dan dibagi lagi, ada masa kita belum dewasa yang sering disebut sebagai masa anak-anak, dan ada masa lain yang saat itu kita memikul sebuah tanggung jawab, yang harus kita pertanggung jawabkan kelak tentang segala apapun perbuatan yang memang telah menjadi pilihan kita.

Sejenak mari kita perhatikan pernyataan ini; “[76:1] Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? [76:2] Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”

Seharusnya menusia modern berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri atas beberapa pertanyaan; siapa sebenarnya saya, darimana saya datang, untuk apa saya ada, kemana saya akan pergi.

Setelah itu mari segera kita cari jawabannya.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.