Pagelaran Ladang Kehidupan Dunia

15 02 2009

Saat duduk ditepian sungai dengan air yang bening dilereng pegunungan, mengamati air mengalir, saat duduk ditepi pantai memperhatikan air laut dengan ombak yang berjalan menepi, kadang kita bertanya dalam hati, mengapa air itu bergerak, kemana akhir dari semua ini. Semuanya bergerak, mengisi tiap celah yang ada. Namun ketika tercapai keadaan tenang, maka anginpun bisa menggerakkan air itu. Dan perubahan sekecil apapun tentu akan menimbulkan pergerakan air itu. Tidak hanya itu, suhu lingkungan dan suhu air itu sendiripun bisa menjadikannya bergerak. Suhu lingkungan yang panas menyebabkan air itu menguap. Perbedaan suhu antara dipemukaan, ditengah dan didasar airpun menyebabkan bergeraknya partikel air itu.

Dalam tubuh kitapun ternyata tidak jauh berbeda, air disemua bagian, keluar dan masuk, mengisi ditiap celah, bergerak dan bergerak dalam aliran sungai yang amat panjang, yang panjangnya hampir sama dengan keliling bumi ini. Semuanya harus bergerak, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu posisi ke posisi yang lain. Dan terkadang jarang kita memikirkan, jarang kita memahami akan semua ini, karena satu dan lain hal yang kelihatannya sangat menyita seluruh daya pikir kita. Entah, apa yang menjadikan seperti itu ? dan mengapa itu banyak terjadi ? Semuanya yang kita lakukan serba dihitung dengan untung dan rugi ? Semuanya hanya dipaksa oleh kepentingan sesaat.

Jika kita berpikir lebih jauh lagi, apa yang sebenarnya harus dilakukan manusia sebagai konsekwensi hidupnya di pagelaran dan di gelanggang kehidupan dunia ? Hanya mencari kesuksessan akan penguasaan materi yang berlimpah dan harus bisa dihitung secara akuntansi kah? Atau sekedar jabatan dan kursi empuk demi prestise dan kebanggaan diri sendiri dan keluarga di pandangan masyarakat kah? Atau mungkin hiburan yang menyenangkan dari lawan jenis? Atau dari ketiga-tiganya, ya materi yang bertumpuk, prestise, dan hiburan menyenangkan dari lawan jenis?

Tanpa panduan yang benar, kehidupan ini mungkin hanya sekedar mengejar dan mencari fatamorgana ditanah datar yang panas. Dalam kehausan yang amat sangat, yang mendambakan setitik air penghilang dahaga, ternyata yang dikejarnya “kosong” belaka, tidak mendapati apapun, tidak mendapati setitik airpun, walau tadinya dari kejauhan kelihatan benar-benar ada air yang menggenang dan berlimpah. Sebuah usaha keras mengejar sesuatu yang nampak begitu nyata dan indah, namun ternyata hanyalah menemui sesuatu yang kosong tanpa makna.

QS An-Nuur [24:39] “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”

Padahal kita diciptakan ini tidak hanya sia-sia, tidak hanya untuk sebuah permainan saja, tidak hanya untuk menuruti keinginan hawa nafsu duniawi yang hanya berhubungan dengan daging dan darah saja. Mari kita lihat kembali Firman ALLAH SWT,

QS Adz-Dzaariyaat [51:56] “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Inilah sebenarnya yang harus kita perhatikan, pengabdian kepada ALLAH SWT. Tentunya pengabdian yang benar harus berdasar panduan dari ALLAH SWT sendiri, bukan dari siapapun, karena siapapun dan apapun selain ALLAH SWT, semuanya punya kewajiban mengabdi kepada ALLAH SWT. Namun ironisnya, justru kita tidak pernah mau melaksanakan apa yang ada dalam panduan itu dengan benar, dan bahkan kadang kita tidak pernah “membaca” panduan itu sendiri, atau justru kadang tidak mengenal. Maka bagaimana bisa melaksanakan, jika memahami saja kita tidak pernah.

QS Adz-Dzaariyaat [51:20] Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. [51:21] dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Dan seluruh aspek kehidupan kita adalah dalam rangka mengabdi kepada ALLAH SWT, yang memang kita disuruh mengelola bumi alam ini dengan baik. Sebab, jika sebuah ladang kosong tidak dikelola dengan benar, tidak ditanami pohon dan tanaman yang baik, maka tidak akan mungkin menghasilkan buah dan biji yang kita inginkan, melainkan hanya ditumbuhi semak belukar, yang hanya akan ditempati dan didiami serta dijadikan rumah oleh binatang-binatang yang berbisa dan buas, yang justru akan mematuk dan menggigit kita dengan bisanya.

Nah, kapan lagi kita akan memulainya? Menanam dan merawat tumbuhan yang kelak kita inginkan kita dapat memetiknya dan menikmatinya. Apakah akan kita biarkan tumbuh semak belukar yang akan didiami binatang berbisa dan buas itu, yang setiap saat bisa menyakiti kita?

Jawabannya, kita harus mulai dari sekarang, membaca petunjuk itu (AL-QUR’AN), memikirkan dengan seksama, memahami semua maksudnya, dan selanjutnya melaksanakan semua arahannya, arahan ALLAH SWT, yang jaminannya tidak main-main, yakni kesuksesan dalam gelanggang pagelaran kehidupan dunia, dan yang lebih penting lagi kesuksesan itu adalah sebagai bekal untuk hidup kita di kehidupan yang kedua di akhirat kelak, sebagai hasil panen dan dapat kita petik dan kita nikmati.

QS Al Muzzammil [73]
1. Hai orang yang berselimut,
2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.
6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).
8. sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
9. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah Dia sebagai Pelindung.
10. dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.





DEMI MATAHARI

6 02 2009

Ini hanyalah sebuah renungan pribadi penulis. Disaat hati bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan para manusia dalam kehidupannya yang menempel erat dibumi yang kelihatannya terhampar luas, karena kecilnya manusia itu sendiri. Mereka sibuk dengan berbagai kegiatannya. Apa sebenarnya yang mendorong mereka untuk bergerak melakukan berbagai aktifitasnya. Semua aktifitas mereka selalu mereka pandang sebagai suatu hal yang benar, meskipun menurut orang lain dinilai sebagai kesalahan. Terkadang karena yang dinilai salah tidak punya kekuasaan, sedangkan yang menilai adalah penguasa, maka kebenaran harus berhadapan dengan sebuah pilihan, ikut larut dalam kesalahan, ataukah tetap bertahan dalam kebenaran meski harus ditebus dengan nyawa.

Adalah seorang Copernicus, diabad 16, mempunyai pendapat yang bertentangan dengan penguasa. Dia berani menyatakan apa yang diyakininya, yang merupakan buah pemikiran dan perhatian yang mendalam terhadap fenomena alam. Saat itu masyarakat dan para penguasa tempat dia tinggal meyakini bahwa bumi adalah datar, dan sebagai pusat, sedangkan matahari dan bulan, beredar mengelilingi bumi. Pengamatan, perhatian, dan pemikiran Copernicus sampai pada kesimpulan bahwa, matahari adalah pusat tata surya, sedangkan bumi bergerak mengelilingi matahari.

Apa yang didapatkan Copernicus dengan kebenaran yang dia sampaikan ? Tiang dan tali gantunganlah yang dia dapatkan dan nyawanya harus dibayarkan sebagai pembelian mempertahankan kebenaran. Dan puaslah penguasa yang tetap bertahan dalam kesalahan, kegelapan yang bertumpuk-tumpuk.

Hampir seratus tahun kemudian, diabad 17, Galileo dengan ilmu yang ALLAH SWT berikan padanya, bukan lari dari kenyataan, tapi kehidupan yang benar akan segera dimulai. Dengan teropong bintangnya, mengajak membuka mata dunia, menengok ke langit yang luas, menembus atmosfir bumi, menembus atmosfir kedunguan, menembus atmosfir kejumudan. Easy come easy go. Galileo terus menyampaikan ayat-ayat kauniyah yang dia dapatkan, cercaan, makian, dan penjara, akhirnya dia dapatkan. Galileo pamit pada mamanya, kebenaran lebih dicintainya, dan nyawalah yang harus dia bayarkan di dalam penjara. Puaslah penguasa dengan kedholimannya.

Bagaimanakah kita saat ini ? Apakah kita mirip penguasa-penguasa itu, ataukah kita memiliki sikap dan pendirian seperti Copernicus ataupun Galileo.

Mari kembali menengok jauh lebih kebelakang, diabad 7 (tujuh). Seorang manusia telah menyampaikan segala fenomena, yang jauh lebih jelas dan tegas, serta mutlak kebenarannya, yang bahkan semua teknologi abad 21 saat inipun belum bisa mengungkap segala yang disampaikannya. Tentu saja, predikat gila, dan lemparan batu, serta berbagai penganiayaan, penyiksaan dialami.

Namun kebenaran segera akan terungkap. Hanya satu pertanyaan lagi, siapkan kita mengkoreksi diri kita sendiri. Mengakui kesalahan, mengakui kebodohan kita. Dan selanjutnya melepaskannya, diiringi mengupgrade dengan kebenaran yang memang seharusnya kita ikuti.

Mengapa kita tidak menjadikan AL-QUR’AN yang telah ditunaikan dalam penyampaian risalahnya dengan lengkap dan sempurna itu sebagai pelajaran utama dan terutama, mengapa kita tidak membenarkan dengan perjuangan maksimal dari seluruh daya upaya? Mengapa justru menjadikan AL-QUR’AN sebagai sesuatu yang tidak diacuhkan. Buktinya adalah kita malas menggunakan pikiran dan hati kita untuk mencerna penjelasan ALLAH SWT dalam AL-QUR’AN.

QS91:ASY SYAMS (MATAHARI)
1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
2. dan bulan apabila mengiringinya,
3. dan siang apabila menampakkannya,
4. dan malam apabila menutupinya
5. dan langit serta pembinaannya,
6. dan bumi serta penghamparannya,
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

ALLAH SWT menggugah kesadaran kita dengan bersumpah membawa sebagian ciptaanNYA yang begitu hebat, agar tidak lagi ada manusia yang menghadapi dengan kesombongannya. Benda-benda yang sudah disebutkan ALLAH SWT tersebut tidak mungkin bisa diketahui secara menyeluruh apalagi ditiru manusia.

Ada sesuatu dibalik jasad manusia yang hanya kecil, rapuh dan lemah ini, yang sering menampakkan kesombongan demi kesombongan. Tubuh fisik manusia yang ringkih yang hanya terdiri dari kumpulan tulang, daging dan darah, tidak akan bisa melakukan aktifitas apapun tanpa apa “ruh” ciptaan ALLAH SWT yang menggerakkan dan memotori aktifitas tersebut. Ruh yang sudah mengangkat sumpah dan janji bahwa benar-benar menyatakan mengakui ALLAH sebagai TUHAN, tiada tuhan-tuhan lain beserta DIA, ALLAH SWT.

Seharusnya manusia sering melakukan penyegaran atas semua itu dengan menanyakan kepada dirinya sendiri:
1. Siapa sebenarnya saya ?
2. Darimana saya datang ?
3. Untuk apa saya ada di dunia ini, di bumi ini ?
4. Kemana saya akan pergi setelah ini, setelah tubuh fisik ini hancur menjadi tanah ?

Maka, marilah kita perhatikan Firman ALLAH SWT, kemudian kita perhatikan dengan seksama ayat-ayat kauniyah yang disebarkan ALLAH SWT di alam ini, selanjutnya kita kembali memperhatikan dan memadukan semuanya yang telah kita perhatikan, akhirnya membuat kesimpulan yang merupakan kesadaran kita tentang ALLAH SWT dan seluruh ciptaanNYA, termasuk kita manusia.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.