LAUTAN ITU BEGITU LUASNYA DAN BEGITU DALAMNYA

21 01 2009

Dilautan yang begitu luas dan dalam, ternyata hanya sedikit yang telah diketahui manusia. Airnya yang begitu banyak, dengan berbagai tingkat salinitas didalamnya juga baru bisa diketahui manusia setelah teknologi yang dikuasainya mendukung untuk meneliti keadaan tersebut. Belum lagi sangat banyak hal lain yang belum bisa diketahui oleh makhluq yang bernama manusia.

Air yang demikian banyak itu, andaikan dipakai sebagai tinta, walaupun setelah ditambah tujuh kali lagi setelah habisnya, maka tiada akan bisa menuliskan “kalimat ALLAH”, “hukum ALLAH” di alam semesta raya ini. Dan jika jari telunjuk kita dimasukkan kedalam air itu, kemudian kita angkat, maka air yang menempel itulah ibarat jumlah ilmu seluruh manusia di bumi ini, dibandingkan dengan lautan “ilmu ALLAH SWT”.

Ternyata dilautan itu, banyak berlayar kapar besar dengan congkaknya, yang tidak menghiraukan dan memperhatikan perahu-perahu kecil para nelayan. Dengan kesombongannya menantang kekuatan alam, kekuatan yang ALLAH SWT letakkan ditiap ciptaannya. Mereka lupa, mereka merasa besar, mereka merasa bahwa dengan sesuatu yang dirangkai dan diciptakan akan membuat mereka kekal, membuat mereka hidup lebih lama.

Manusia lupa dan merasa dirinya besar. Namun cobalah pikirkan, ketika anda sedang tidur di sebuah taman di kebun belakang rumah, atau di sebuah perkemahan di lereng gunung yang indah, atau di tepian pantai yang hangat pasirnya, kemudian roh anda diajak naik pesawat, meninggalkan badan fisik anda sendirian tidur diatas tikar. Naik dan naik, 10 meter, 100 meter, 1000 meter, 10000 meter, terus sampai 1000000000000000 meter, teruuus… sampai 100 juta tahun cahaya.

Apakah anda masih terlihat??? Dimana badan fisik anda??? Yang anda sombongkan dengan wajah cantik/ganteng anda, dengan gagah/indah tubuh anda, dengan segala yang anda banggakan ???

Inilah kita, yang jauuuuh dari sempurna, mengapa kita masih sombong, seolah kita lebih tahu dari semua orang lain, seolah kita lebih cantik dari semua oarang lain, merasa lebih sempurna.

Saudaraku, adalah kebodohan yang sangat, jika kita masih seperti itu. Mari kita sadari, bahwa kita masih jauh dari sempurna, dan kita terus berusaha semaksimal kemampuan kita untuk mencontoh manusia pilihan, yang dipilih-NYA untuk menyampaikan risalah-NYA kepada seluruh manusia. Utusan itu telah memberikan contoh begitu lengkap dan sempurna.

Mengapa kita merasa lebih pandai, merasa lebih pintar, dan menuduhnya khianat, menuduhnya masih menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan, sehingga kita masih merekayasa sendiri cara ibadah kita kepada-NYA, sehingga kita masih menciptakan aturan aqidah untuk mendekat kepada-NYA, sehingga kita merasa tidak cukup hanya dengan mencontoh dan meniru aqidah dan ibadah yang diajarkan utusan itu (Rasulullah Muhammad saw).

Marilah kita sadari wahai saudaraku, kita masih jauh dari sempurna, kita harus terus berusaha meniru dan mencontoh aqidah dan ibadah Rasulullah Muhammad saw, meniggalkan buatan kita sendiri, meninggalkan buatan pemimpin kita sendiri yang mereka mengatakan untuk lebih afdlolnya, meninggalkan buatan nenek moyang yang tidak mendapat petunjuk dan hanya menduga-duga, mengira-ngira.

Apapun yang dikatakan orang lain kepada kita, jika cacian maka janganlah kita menjadi rendah diri, jika pujian maka janganlah kita menjadi besar kepala. Yang penting bagi kita adalah, ikhlash, hanya karena mencari ridlo ALLAH SWT belaka, hanya karena ingin bertemu dengan ALLAH SWT di sorga-NYA. Mengapa kita risaukan ocehan orang lain ???





LAUTAN ITU BEGITU LUASNYA

21 01 2009

Dilautan yang begitu luas dan dalam, ternyata hanya sedikit yang telah diketahui manusia. Airnya yang begitu banyak, dengan berbagai tingkat salinitas didalamnya juga baru bisa diketahui manusia setelah teknologi yang dikuasainya mendukung untuk meneliti keadaan tersebut. Belum lagi sangat banyak hal lain yang belum bisa diketahui oleh makhluq yang bernama manusia.

Air yang demikian banyak itu, andaikan dipakai sebagai tinta, walaupun setelah ditambah tujuh kali lagi setelah habisnya, maka tiada akan bisa menuliskan “kalimat ALLAH”, “hukum ALLAH” di alam semesta raya ini. Dan jika jari telunjuk kita dimasukkan kedalam air itu, kemudian kita angkat, maka air yang menempel itulah ibarat jumlah ilmu seluruh manusia di bumi ini, dibandingkan dengan lautan “ilmu ALLAH SWT”.

Ternyata dilautan itu, banyak berlayar kapar besar dengan congkaknya, yang tidak menghiraukan dan memperhatikan perahu-perahu kecil para nelayan. Dengan kesombongannya menantang kekuatan alam, kekuatan yang ALLAH SWT letakkan ditiap ciptaannya. Mereka lupa, mereka merasa besar, mereka merasa bahwa dengan sesuatu yang dirangkai dan diciptakan akan membuat mereka kekal, membuat mereka hidup lebih lama.

Manusia lupa dan merasa dirinya besar. Namun cobalah pikirkan, ketika anda sedang tidur di sebuah taman di kebun belakang rumah, atau di sebuah perkemahan di lereng gunung yang indah, atau di tepian pantai yang hangat pasirnya, kemudian roh anda diajak naik pesawat, meninggalkan badan fisik anda sendirian tidur diatas tikar. Naik dan naik, 10 meter, 100 meter, 1000 meter, 10000 meter, terus sampai 1000000000000000 meter, teruuus… sampai 100 juta tahun cahaya.

Apakah anda masih terlihat??? Dimana badan fisik anda??? Yang anda sombongkan dengan wajah cantik/ganteng anda, dengan gagah/indah tubuh anda, dengan segala yang anda banggakan ???

Inilah kita, yang jauuuuh dari sempurna, mengapa kita masih sombong, seolah kita lebih tahu dari semua orang lain, seolah kita lebih cantik dari semua oarang lain, merasa lebih sempurna.

Saudaraku, adalah kebodohan yang sangat, jika kita masih seperti itu. Mari kita sadari, bahwa kita masih jauh dari sempurna, dan kita terus berusaha semaksimal kemampuan kita untuk mencontoh manusia pilihan, yang dipilih-NYA untuk menyampaikan risalah-NYA kepada seluruh manusia. Utusan itu telah memberikan contoh begitu lengkap dan sempurna.

Mengapa kita merasa lebih pandai, merasa lebih pintar, dan menuduhnya khianat, menuduhnya masih menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan, sehingga kita masih merekayasa sendiri cara ibadah kita kepada-NYA, sehingga kita masih menciptakan aturan aqidah untuk mendekat kepada-NYA, sehingga kita merasa tidak cukup hanya dengan mencontoh dan meniru aqidah dan ibadah yang diajarkan utusan itu (Rasulullah Muhammad saw).

Marilah kita sadari wahai saudaraku, kita masih jauh dari sempurna, kita harus terus berusaha meniru dan mencontoh aqidah dan ibadah Rasulullah Muhammad saw, meniggalkan buatan kita sendiri, meninggalkan buatan pemimpin kita sendiri yang mereka mengatakan untuk lebih afdlolnya, meninggalkan buatan nenek moyang yang tidak mendapat petunjuk dan hanya menduga-duga, mengira-ngira.

Apapun yang dikatakan orang lain kepada kita, jika cacian maka janganlah kita menjadi rendah diri, jika pujian maka janganlah kita menjadi besar kepala. Yang penting bagi kita adalah, ikhlash, hanya karena mencari ridlo ALLAH SWT belaka, hanya karena ingin bertemu dengan ALLAH SWT di sorga-NYA. Mengapa kita risaukan ocehan orang lain ???





AKU BISA ( I CAN )

13 01 2009

Bila anda berpikir,
bahwa anda telah ditaklukkan,
maka sebenarnya anda telah kalah.
Bila anda berpikir, bahwa anda tidak mampu,
maka anda memang menjadi lemah.
Bila anda ingin menang, tetapi anda berpikir,
bahwa anda tidak bisa menang,
maka pastilah anda tidak akan bakal menang.
Bila anda berpikir, bahwa anda akan menderita rugi,
maka anda akan betul-betul rugi.
Karena dimanapun diseputar jagad raya ini,
sukses itu hanya berpangkal dari kemampuan seseorang,
yang mewujudkan jalan pikirannya.
Bila anda berpikir,
bahwa kedudukan anda tersisihkan dalam masyarakat,
maka anda akan mengalami perlakuan demikian.
Oleh sebab itu, anda hendaknya berpikir tinggi
dalam usaha meningkatkan derajat anda.
Anda harus yakin benar akan diri anda sendiri,
sebelum anda memenangkan suatu hadiah.
Pertarungan dalam medan juang hidup ini,
memang tidak selamanya mendatangkan keuntungan
bagi yang kuat ataupun yang cepat.
Akan tetapi, lambat atau lekas,
orang yang menang itu,
adalah orang yang berpikir bahwa……
DIA SANGGUP, DIA BISA.





AKU BISA

12 01 2009

Bila anda berpikir,
bahwa anda telah ditaklukkan,
maka sebenarnya anda telah kalah.
Bila anda berpikir, bahwa anda tidak mampu,
maka anda memang menjadi lemah.
Bila anda ingin menang, tetapi anda berpikir,
bahwa anda tidak bisa menang,
maka pastilah anda tidak akan bakal menang.
Bila anda berpikir, bahwa anda akan menderita rugi,
maka anda akan betul-betul rugi.
Karena dimanapun diseputar jagad raya ini,
sukses itu hanya berpangkal dari kemampuan seseorang,
yang mewujudkan jalan pikirannya.
Bila anda berpikir,
bahwa kedudukan anda tersisihkan dalam masyarakat,
maka anda akan mengalami perlakuan demikian.
Oleh sebab itu, anda hendaknya berpikir tinggi
dalam usaha meningkatkan derajat anda.
Anda harus yakin benar akan diri anda sendiri,
sebelum anda memenangkan suatu hadiah.
Pertarungan dalam medan juang hidup ini,
memang tidak selamanya mendatangkan keuntungan
bagi yang kuat ataupun yang cepat.
Akan tetapi, lambat atau lekas,
orang yang menang itu,
adalah orang yang berpikir bahwa……
DIA SANGGUP, DIA BISA.





Bagaimana jika gelap tanpa cahaya ?

4 01 2009

Berjalan kaki mendaki di bukit tandus, terjal berbatu tajam, semak berduri, dan disisinya lembah dalam menganga, dimalam yang hitam pekat kelam tanpa bulan menyinari, hanya kerlip bintang dilangit yang jauh. Belum pernah sekalipun kita menapakkan kaki ditempat itu. Bisakah untuk selamat sampai tempat tujuan, jika harus berjalan tanpa cahaya penerang? Walau mata terbuka lebar, namun tiada satupun keadaan didepan kita yang bisa tergambarkan, bahkan tangan kitapun tak dapat kita lihat. Bagaimana kita bisa selamat di tempat tujuan?

Mengendarai sepeda motor tiger terbaru, harus melakukan perjalanan dari Polsek Jambu, menuju Paltuding (sebagai perjalanan di lereng ijen), dimalam gelap, hujan dan berkabut, dengan jalanan aspal yang mulai rusak, batunya mulai berlepasan disana sini, licin dengan belokan-belokan tajam, turun dan mendaki 45 derajat. Bagaimana akan bisa selamat sampai tujuan jika lampunya yang terang itu tidak dinyalakan?

Sebuah sedan mewah yang baru, dengan perangkat canggihnya yang serba sempurna, dengan sopir/driver ahli, akan membawa kita menuju suatu tempat tujuan, yang harus melewati hutan di pegunungan, dengan jalanan mulus berhias tanjakan dan turunan yang tajam, penuh dengan belokan, satu sisi jalan adalah bukit batu dan satu sisinya lagi jurang dalam menganga. Berjalan dimalam gelap pekat, tanpa cahaya bulan. Bagaimana bisa selamat sampai tujuan, jika lampu halogen yang sangat terang tidak dinyalakan?

[42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (ruuhan,Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

[42:53] (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.

Seekor burung beo menyanyikan lagu cinta, bisakah dia dia menghayati dan tersenyum atau menangis? Atau mungkin dia membunyikan salam, ataupun membunyikan satu ayat dari Al-Qur’an, bisakah dia memahami dan selanjutnya melaksanakan?

Seekor keledai membawa buku-buku tebal, berisi pengetahuan yang hebat, luar biasa, dan spektakuler, juga berisi resep-resep kedokteran modern untuk penyembuhan penyakit-penyakit berbahaya dan mematikan. Bergunakah buku-buku itu bagi keledai tersebut?

Mari kita pikirkan, kemudian kita merencanakan, bagaimana selanjutnya kita bersikap dan berbuat, agar kesuksesan dapat kita raih di dalam kehidupan kita.





Bagaimana jika gelap tanpa cahaya ?

4 01 2009

Berjalan kaki mendaki di bukit tandus, terjal berbatu tajam, semak berduri, dan disisinya lembah dalam menganga, dimalam yang hitam pekat kelam tanpa bulan menyinari, hanya kerlip bintang dilangit yang jauh. Belum pernah sekalipun kita menapakkan kaki ditempat itu. Bisakah untuk selamat sampai tempat tujuan, jika harus berjalan tanpa cahaya peneranag? Walau mata terbuka lebar, namuan tiada satupun keadaan didepan kita yang bisa tergambarkan, bahkan tangan kitapun tak dapat kita lihat. Bagaimana kita bisa selamat di tempat tujuan?

Mengendarai sepeda motor tiger terbaru, harus melakukan perjalanan dari Polsek Jambu, menuju Paltuding (sebagai perjalanan di lereng ijen), dimalam gelap, hujan dan berkabut, dengan jalanan aspal yang mulai rusak, batunya mulai berlepasan disana sini, licin dengan belokan-belokan tajam, turun dan mendaki 45 derajat. Bagaimana akan bisa selamat sampai tujuan jika lampunya yang terang itu tidak dinyalakan?

Sebuah sedan mewah yang baru, dengan perangkat canggihnya yang serba sempurna, dengan sopir/driver ahli, akan membawa kita menuju suatu tempat tujuan, yang harus melewati hutan di pegunungan, dengan jalanan mulus berhias tanjakan dan turunan yang tajam, penuh dengan belokan, satu sisi jalan adalah bukit batu dan satu sisinya lagi jurang dalam menganga. Berjalan dimalam gelap pekat, tanpa cahaya bulan. Bagaimana bisa selamat sampai tujuan, jika lampu halogen yang sangat terang tidak dinyalakan?

[42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (ruuhan, Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

[42:53] (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.

Seekor burung beo menyanyikan lagu cinta, bisakah dia dia menghayati dan tersenyum atau menangis? Atau mungkin dia membunyikan salam, ataupun membunyikan satu ayat dari Al-Qur’an, bisakah dia memahami dan selanjutnya melaksanakan?

Seekor keledai membawa buku-buku tebal, berisi pengetahuan yang hebat, luar biasa, dan spektakuler, juga berisi resep-resep kedokteran modern untuk penyembuhan penyakit-penyakit berbahaya dan mematikan. Bergunakah buku-buku itu bagi keledai tersebut?

Mari kita pikirkan, kemudian kita merencanakan, bagaimana selanjutnya kita bersikap dan berbuat, agar kesuksesan dapat kita raih di dalam kehidupan kita.





Makna Hijrah

1 01 2009

Perubahan, itulah mungkin yang abadi dalam dunia fana ini, karena tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik, bahkan tiap apapun ukuran waktu yang lebih kecil dari itu, setiap ciptaan ALLAH SWT akan berubah dan berubah. Tidak ada satupun ciptaan ALLAH yang tetap dan kekal, semuanya berubah menuju ke-kebinasaan, dari yang paling besar, bahkan sampai yang paling kecil sekalipun.

Demikian juga manusia yang juga tak luput dari perubahan itu. Tak terasa, sampai saat ini kita masih bisa merasakan nikmatnya bernafas. Padahal belum lagi hilang dari memory kita, bahwa kemarin kita baru bertemu, masih bersama, bercanda, menangis dan tertawa, akhirnyapun harus berpisah menyusuri jalan kehidupan masing-masing.

Lebih jauh lagi, kemarin baru saja kita dilahirkan oleh ibu kita, yang saat lahir kita tidak mengetahui apapun, selanjutnya hari demi hari tumbuh dan berkembang, dengan menerima pengetahuan sedikit demi sedikit, kemudian memasuki usia dewasa, dan akhirnyapun kita akan berlari menghampiri tua, dan akhirnya akan segera berpisah dengan kehidupan dunia fana ini.

Kita dapat melihat anak kita yang masih kecil, tiap hari kita peluk ketika tidurnya, tanpa terasa dia tumbuh dan menjadi besar disertai pengetahuan yang makin meningkat, dan semua itu kadang kita baru menyadari, ketika ternyata dia sudah berubah menjadi besar.

Mari kita perhatikan firman ALLAH dalam QS Al Ahqaaf:

15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Maka selanjutnya kita mesti berpikir, sudahkah panduan hidup dan pelajaran dari ALLAH kita tanamkan kepada mereka. Atau pula sudahkah panduan hidup dan pelajaran dari ALLAH kita pahami dan kita aplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jika jawaban dari pertanyaan ini adalah “belum”, maka kita harus segera menancapkan tonggak untuk kehidupan kita selanjutnya. Tonggak perubahan sebagai makna dari “HIJRAH”, berubah dan berpindah, meninggalkan segala yang dilarang dan tidak disukai ALLAH menuju segala sesuatu yang dicintai dan diridloi ALLAH.

Rasulullah Muhammad saw menyatakan “orang yang berhijrah itu dalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang ALLAH padanya”(Al-Hadits)

Demikian juga firman ALLAH dalam QS At-Taubah:

20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

21. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,

22. mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Kita mesti pula ingat bahwa, kita telah bersyahadat sebelum lagi kita lahir, yang semestinya pula selalu diingatkan dan disegarkan persaksian kita itu, oleh orang tua kita, oleh guru-guru kita, oleh saudara-saudara kita. Dan semestinya pula kita memberikan penyegaran itu kepada anak-anak kita. Kembali sebuah pertanyaan kepada kita, sudahkah kita menyampaikan dan memberikan penyegaran itu? Sebab disana, diakhirat, tidak lagi ada interupsi ataupun protes karena kita tidak mengerti atau karena kita tidak tahu.

Sebagaimana dijelaskan ALLAH melalui firman dalam QS Al A’raaf:

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

173. atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu[582]?”

[582] Maksudnya: agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan orang-orang tua mereka itu.

Akhirnya pun kita harus benar-benar menancapkan tonggak peringatan kepada kita sendiri, bahwa setelah kita masuki tahun baru 1 Muharram 1430 H dengan “iman” yang utuh didada, kita akan benar-benar “berhijrah” dan selanjutnya “berjihad” dijalan ALLAH sepenuh hati dengan harta dan jiwa kita, sembari kita pinta kepada ALLAH untuk membackup seluruh perjuangan kita, sebagaimana doa yang ALLAH ajarkan kepada pemuda-pemuda penghuni gua.

Sebagaimana dijelaskan ALLAH melalui firman dalam QS Al Kahfi:

10. (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

Akhirnya, semoga ALLAH SWT senantiasa memberkahi tiap langkah kita dalam seluruh aspek kehidupan kita. Aamiin.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.